Minggu, 29 April 2012

FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

            Filsafat dan  ilmu adalah  dua kata yang sering terkait, baik secara substansial maupun hisfories karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadapan filsafat.Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunnai dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang lebih domain.Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada rasio. Dengan berkembangnya pola fikir manusia, maka berkembang pula tentang pemikiran dan pembahasan di dalam filsafat. Filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama kristen.
            Sejarah filsafat abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476, yakni masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (sekarang Istambul), sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya.
            Filasafat Yunani yang mengeluarkan banyak pemikir ulung, memiliki tempat yang cukup berpengaruh pada perkembangan ilmu filsafat di abad pertengahan.Pada masa itu, perkembangan kehidupan di dunia tidak bisa lepas dari dua agama besar yang saat itu saling mempengaruhi, Islam dan Nasrani.Masyarakat tersebut memiliki kontribusi besar dalam perkembangan dunia selanjutnya.
            Pada masa pertengahan ini, terdapat periode yang membuat perkembangan filsafat tidak berlanjut, yaitu pada masa skolastik Kristen.Hal ini dikarenakan pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati. Untuk pembahasan lebih lanjut, kami akan membahasnya dalam pembahasan selanjutnya.
BAB II
PEMBAHASAN

FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN

            Filsafat abad  pertengahan  lazim disebut filsafat Scholastik. Kata ini ini diambil dari kata schuler yang berarti ajaran atau sekolahan. Hal ini karena sekolah yang diadakan oleh Karrel Agung yang mengajarkan apa yang diistilahkan  sebagai artes liberales (seni bebas) meliputi pelajaran gramatika, geometri, aritmatika, astronomia, musika dan dialektika (logika) dan meliputi seluruh filsafat.[1]
            Filsafat abad  pertengahan (476-1492 M) dapat dikatakan sebagai abad gelap, karena pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah Gereja. Memang pada saat itu, tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi mendapatkan kebebasan untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Para ahli fikir  pada saat itu tidaak memiliki kebebasan berfikir. Pada abad ini, apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang yang bertentangan dengan ajaran gereja, maka orang yang mengungkapakan pemikiran tersebut akan mendapat hukuman yang berat. Pihak gereja melarang adanya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena itu, kajian terhadap  agama (teologi) yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapat larangan yang ketat,yang berhak mengadaknan penyelidikan penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja.[2]
            Masa abad  pertengahan  ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia kedalam kehidupan atau kepercayaaan yang picik dan fanatic, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta.perkembangan ilmu pengetahuan pad masa ini terhambat, pihak gereja sangat mendominasi, yang tujuannya untuk membimbing umat ke arah hidup yang saleh. Di sisi lain, pihak gereja tidak memmikirkan  martabat dan kebebasan manusia yang memiliki perasaan, keinginan dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.
            Secara garis besar filsafat abad  pertengahan dapat dibagi dua periode, yaitu periode Scholastik islam dan periode Scholastik kristen.

A.    FILSAFAT SCHOLASTIK ISLAM (ARAB)
            Menurut Hasbullah Bakry, istilah Scholastik jarang dipakai dalam islam. Mereka lebih sering sering menggunakan istilah filsafat islam.antara kedua ilmu tersebut dalam pembahasannya dipisahkan.
            Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum pernah mengenal filsaafat Aristoteles secara keseluruhan. Scholastik islamlah yang membawakan perkembangan filsafat ke Barat. Orang-orang barat mengenal Aristoteles adalah berkat tulisan dari pikir islam terutama daari Ibnu Rusyd. Yang dimaksud dengan para ahli pikir islam ( periode Scholastik Islam ) yaitu, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd dan lainnya. Peran mereka sangat besar sekali tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja, akan tetapi para ahli pikir Islam tersebut memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi Eropa, yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan.

1.            Al-Kindi ( 801-865 M )
            Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq Al-Kindi. Lahir di Kuffah pada tahun 796 M dan meninggal di Baghdad tahun 873 M. Ia adalah pertama yang memasukkan filsafat  sebagai salah satu ilmu  ke islaman, seteelah ia menyesuaikannya dengan Islam.
            Pokok-pokok filsafatnya adalah sebagai berikut:
a.       Tentang Filsafat
Agama dan filsafat masing-masing mencari kebenaran, filsafat yang paling tinggi dan paling mulia adalah filsafat utama ( metafisika ), yakni mengetahui kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.
b.      Filsafat metafisika
Dalam metafisika, Al-Kindi pada umumnya menyetujui pendapat Aristoteles dan Neo-Platonisme. Menurut Al-Kindi, tuhan tidak mempunyai hakikat dalam arti aniah dan mahiyah. Tuhan tidak aniah karena tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, ia adalah pencipta alam. Al-Kindi tetap pada prinsip teologi islam bahwa semua diciptakan oleh Tuhan dan Tuhan di atas ketntuan hukum alam.
c.       Tentang jiwa
Al-kindi berpendapat bahwa akal terbagi ke dalam tiga kategori. Yaitu akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual.
d.      Tentang moral
Menurut Al-Kindi, filsafat harus memperdalam pengetahuan manusia tentang diri dan bahwa filsuf wajib menempuh hidup susila. Kebijaksanaan tidak dicari untuk diri sendiri ( Aristoteles ), melainkan untuk hidup bahagia ( stoa ).

2.            Al-Farabi ( 870-950 M )
            Nama lengkapnya Abu Nasr Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzlagh al Farabi, lahir di Farab, Transoxania pada tahun 872 dan meninggal pada tahun 950 M di Damsyik. Pokok-pokok filsafatnya adalah sebagai berikut:
a.       Metafisika Al-Farabi
            Al-Farabi sependapat dengan Plato, yang menyatakan bahwa alam ini baharu, terjadi dari tiada. Tuhan sebagai akal murni adalah wujud pertama, berfikir tentang dirinya sendiri. Maka lahirlah wujud kedua yang disebut akal pertama. Tingkat wujudnya adalah wujud yang terendah adalah materi abstrak, tingkat yang lebih tinggi dari itu adalah ketika materi itu menerima bentuk. Pertama yang berupa unsure-unsur seperti api, air, tanah, wujud mineral yaitu seperti emas perak, besi, tembaga, dll.
b.      Filsafat kenegaraan
            Al-Farabi dalam bukunya Ara’ al-madinatul al-fadilah,menjelaskan pendapat tentang Negara utama, ia membagi masyarakat kedalam dua macam. Pertama, masyarakat sempurna yaitu masyarakat yang mengandung keseimbangan antara unsur-unsurnya, seeperti kesemibangan yang ada dalam tubuh manusia. Kedua, masyarakat yang tidak sempurna adalah masyarakat yang bodoh dan fasik serta hanya mencari kesenangan jasmaninya saja.
            Mengenai etika kenegaraan, Al-Farabi mengemukakan teori bahwa setiap keadaan pasti ada pertentangan. Seperti dalam alam hewani, yang kuat menindas yang lemah.

3.            Ibnu Sina ( 980-1037 M )
            Abu Ali Husein Ibn bdillah Ibn Sina pada tahun 980 M di Afshanah, dekat Bukhara dan meninggal  di Isfahan pada tahun 1037 M. di dunia barat ia dikenal dengan nama Avisena dan kemasyurannya di dunia barat sebagai dokter melampaui kemasyurannya segagai filosof.
             Di bidang keddokteran ia menulis bukunya al-qanun yang meliputi semua yang bertalian dengan ilmu kedokteran, seperti fisiologi, anatomi dan pengobatan. Ia mengatakan bahwa Tuhan itu adalah Al’Aqlu (akal).

4.            Al-Ghazali ( 1058-1111 M )
            Abu Hamid Muhammad  Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali lahir di Ghazelah, Khurasan (Persia) pada tahun 1058 M. di dunia barat abad pertengahan, ia dikenal dengan nama Abu Hamed dan Al-Ghazalel.
a.       Epistemology Al-Ghazali
Awalnya ia berpendapat bahwa pengetahuan adalah hal-hal yang ditangkap oleh panca indra. Ternyata menurutnya panca indra juga berdusta, kemudia ia meletakkan kepercayaan pada akal. Namun ia juga tetap ragu pada akal. Tiga bulan kemudian Allah memerikan nur yang disebut juga sebagai kunci ma’rifat kedalam hatinya. Dengan demikian Al-Ghazali percaya bahwa intuisi lebih tinggi dan lebih dipercaya daripada akal untuk menangkap pengetahuan yang betul-betul diyakini.
b.      Metafisika Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali ilmu tuhan adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat, kalau terjadi tambahan atau prtalian dengan zat, zat tuhan tetap dalam keadaannya. Al-Ghazali membagi manusia kepada tiga golongan, yaitu kaum awam, cara berfikir mereka sangat sederhana. Kaum pilihan, cara berfikir mereka mendalam dan akal mereka tajam. Dan kaum pengingkar
c.       Jiwa dalam pandangan Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali, setiap perbuatan akan menimbulkanpengaruh pada jiwa, yakni membentuk kualitas jiwa, asalkan perbuatan itu dilakukan dengan sadar.
d.      Kritikannya terhadap filosof
Al-Ghazali menentang menentang argument filsafat para filosof yunani dan filosof islam dalam banyak masalah. Ia menentang dalil filsafat Aristoteles tentang azalinya alam. Dengan tegas ia katakan bahwa alam berasal dari tidak ada menjadi ada ( creotio ex nihilo), sebab diciptakan oleh tuhan.

5.            Ibn Rusyd ( 1126-1198 M )
Ibn Al-Whalid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Rusyd lahir di cordova pada tahun 1126 M. ia di kenal dengan sebutan averroes , di dunia islam ia di kenal dengan ahli hukum dan filosof. Aliran filsafat Ibn Rusyd adalah rasional. Ia menjunjung tinggi akal pikiran daan menghargai peranan akal.
a.       Metafisika Ibn Rusyd
Dalam masalah ketuhanan, ia berpendapat bahwa Allah penggerak pertama. Sifat positif kepada Allah adalah akal dan ma’qul. Wujud Allah adalah Esa-Nya. Wujud dan ke Esaan-Nya tidak berbeda dari zat-Nya. Ia menafsirkan agamapun dengan penafsiran rasional. Namun, ia tetap berpegang pada sumber agama, yakni Al-Quran.[3]
b.      Tingkat kemampuan manusia menurut Rusyd
Pembuktian sesuatu memang dipengaruhi oleh kapasitas individual. Diantaranya ada yang melakukan pembutian dengan cara demonstrasi , ada juga lewat dialektik, dan ada lagi melalui dalil reterik.
c.       Tentang qadimnya alam semesta
Ibn Rusyd berpendapat bbahwa alam adalah azali. Jadi, ada dua yang azali yaitu Tuhan dan alam. Namun keazalian Tuhan lebih lama dari keazalian alam. Argument yang dikemukakan ialah seandainya alam tidak azali, maka ada permulaannya, maka habislah alam ini (baru).

B.     FILSAFAT SCHOLASTIK KRISTEN
Periode scholastik ini dapat dibagi menjadi tiga masa, yaitu:
1.            Masa scholastik awal ( abad 9-10 M )
            Masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan setelah terjadi kemerosotan pemikiran filsafat pada masa sebelumnya yang disebabkan kuat dominasi golongan gereja. Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang universalia. Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme mempunyai pengaruh yang luas dan kuat dalam berbagai aliran pemikiran.Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury).
            Pengaruh alam pemikiran dari Arab mempunyai peranan penting bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Pada tahun 800-1200, kebudayaan Islam berhasil memelihara warisan karya-karya para filsuf dan ilmuwan zaman Yunani Kuno. Kaum intelektual dan kalangan kerajaan Islam menerjemahkan karya-karya itu dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Maka, pada para pengikut Islam mendatangi Eropa (melalui Spanyol dan pulau Sisilia) terjemahan karya-karya filsuf Yunani itu, terutama karya-karya Aristoteles sampai ke dunia Barat. Dan salah seorang pemikir Islam adalah Muhammad Ibn Rushd. Namun jauh sebelum Ibn Rushd, seorang filsuf Islam bernama Ibn Sina (980-1037) berusaha membuat suatu sintesis antara aliran neo-Platonisme dan Aristotelianisme.
2.            Masa scholastik keemasan ( 1200-1300 M )
            Secara umum, ada beberapa faktor yang menjadikan masa scholastik mencapai keemasan. Pertama, adanya pengaruh  Aristoteles, Ibn Rusyd, Ibn Sina, sejak abad ke-12 sampai abad ke-13. Kedua, tahun 1200 M didirikan Universitas Almamater di perancis. Ketiga, berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan. Adapun tokoh yang paling terkenal pada masa ini, yaitu:
a.       Albertus Magnus ( 1203-1280 M )
Albertus von Bolstadt mempunyai kepandaian yang luar biasa. Pola pemikirannya meniru Ibn Rusyd dalam menulis tentang aristoteles. Dalam bidang ilmu pengetahuan,ia mengadakan penelitian dalam bidang ilmu biologi dan ilmu kimia.[4]
b.      Thomas Aquinas ( 1225-1274 M )
Thomas dari Aquino lahir di Rocca sicca, Italia. Aquinas mendasarkan filsafatnya pada kepastian adanya Tuhan. Menurutnya, eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal.
3.            Masa scholastic akhir ( 1300-1450 M )
            Pada akhir periode ini, muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk wilayah Jerman, Nicolaus Cusanus (1401-1464 M). Ia berpendapat bahwa ada tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat indera, akal dan intuisi. Dengan indera, kita akan mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjasad, yang tidak sempurna. Dengan akal, kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasarkan tangkapan oleh indera. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi.
            Periode skolastik Akhir ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang ke arah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.














BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

            Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarangkita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmukedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulumemfikirkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat.Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawabanfilsafati. Kalau ilmu diibiratkan sebagai sebuah pohon yang memiliki berbagai cabang pemikiran, ranting pemahaman, serta buah solusi, maka filsafat adalah tanah dasar tempat pohon tersebut berpijak dan tumbuh.
            Filsafat abad  pertengahan dikenal dengan “matinya” filsafat karena kurungan dogma gereja yang berlaku pada saat itu. Etika sebagai salah satu pemikiran filsafat khusunya tentang moral juga terkungkung oleh dogma gereja. Pemikiran tentang etika atau filsafat moral ditentukan oleh ajaran agama terutama agama kristen. Benar atau salahnya suatu perbuatan tidak ditentukan dengan akal atau rasio melainkan ditentukan oleh ajaran agama.
            Zaman pertengahan ialah zaman dimana Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Dilihat secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam, pimpinan biara, rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.
            Dalam perkembanganya, filsafat Yunani sempat mengalami masa pasang surut. Ketika peradaban Eropa harus berhadapan dengan otoritas Gereja dan imperium Romawi yang bertindak tegas terhadap keberadaan filsafat di mana dianggap mengancam kedudukannya sebagai penguasa ketika itu.


[1] M Syafieh dan Ismail Fahmi Arrauf, MA. Filsafat umum. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis
[2] ibid
[3] M Syafieh dan Ismail Fahmi Arrauf, MA. Filsafat umum. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis

[4] ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar